Santri MUS Canduang Ambil Bagian dalam Film Dokumenter `Suara yang Menjaga Adat`, Wujud Nyata Melest
Di tengah derasnya arus globalisasi yang membawa perubahan pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, menjaga warisan budaya menjadi sebuah tanggung jawab bersama. Sebagai lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menanamkan ilmu agama, tetapi juga menghargai nilai-nilai budaya lokal yang selaras dengan syariat, Pondok Pesantren Miftahul 'Ulumi Syar'iyyah (MUS) V Suku Canduang kembali menunjukkan komitmennya dalam pelestarian budaya Minangkabau.
Komitmen tersebut terlihat melalui keikutsertaan Pondok Pesantren MUS Canduang dalam kegiatan peluncuran dan nonton bersama film dokumenter "Suara yang Menjaga Adat", sebuah karya yang mengangkat kekayaan Tradisi Lisan Pasambahan Minangkabau sebagai warisan budaya yang sarat makna dan tetap relevan bagi kehidupan masyarakat masa kini.
Film dokumenter ini menghadirkan kisah tentang pasambahan sebagai salah satu bentuk komunikasi adat Minangkabau yang telah diwariskan secara turun-temurun. Lebih dari sekadar seni bertutur, pasambahan merupakan media penyampaian nilai-nilai kehidupan yang mengajarkan adab, etika, kebijaksanaan, penghormatan kepada sesama, serta kecakapan berpikir dalam menyampaikan pendapat secara santun dan bermartabat.
Melalui narasi yang kuat dan visual yang menyentuh, "Suara yang Menjaga Adat" mengajak masyarakat untuk kembali menyadari bahwa tradisi lisan bukanlah peninggalan masa lalu yang harus ditinggalkan, melainkan warisan yang perlu dirawat sebagai identitas budaya. Di balik setiap untaian kata dalam pasambahan tersimpan falsafah hidup masyarakat Minangkabau yang menjunjung tinggi musyawarah, penghormatan terhadap adat, serta keseimbangan antara adat dan syariat.
Kebanggaan tersendiri dirasakan oleh keluarga besar Pondok Pesantren MUS Canduang karena film dokumenter ini turut melibatkan tokoh-tokoh yang selama ini aktif membina dan mengembangkan tradisi pasambahan di lingkungan pesantren.
Di antaranya adalah Bapak Musra Dahrizal Katik Rajo Mangkuto (Mak Katik) yang dikenal sebagai salah seorang tokoh adat Minangkabau, serta Bapak Yuzendri Payung Ameh, Pembimbing Ekstrakurikuler Pasambahan Pondok Pesantren MUS Canduang, yang selama ini dengan penuh dedikasi membimbing para santri untuk mempelajari dan menghidupkan kembali tradisi pasambahan sebagai bagian dari pendidikan karakter.
Yang semakin membanggakan, sejumlah santri Pondok Pesantren MUS Canduang juga turut ambil bagian dalam proses produksi film tersebut. Keterlibatan para santri menjadi bukti bahwa generasi muda pesantren tidak hanya dibekali ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga diberikan ruang untuk mengenal, mencintai, dan melestarikan budaya daerahnya.
Keikutsertaan santri dalam film dokumenter ini merupakan wujud nyata bahwa pelestarian budaya tidak cukup dilakukan melalui teori semata, melainkan harus diwujudkan melalui praktik dan pengalaman langsung. Dengan terlibat dalam produksi film, para santri belajar memahami nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi pasambahan sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat luas melalui media visual yang lebih dekat dengan generasi muda.
Bagi Pondok Pesantren MUS Canduang, kegiatan ini sejalan dengan visi pendidikan pesantren yang memadukan nilai-nilai Islam dengan kearifan lokal. Adat dan budaya yang tidak bertentangan dengan syariat merupakan bagian dari kekayaan bangsa yang patut dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Tradisi pasambahan menjadi salah satu contoh bagaimana nilai kesantunan, penghormatan kepada orang lain, serta kemampuan berkomunikasi yang baik telah lama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Minangkabau.
Film dokumenter ini juga menjadi pengingat bahwa perkembangan teknologi dan modernisasi tidak seharusnya menghilangkan akar budaya. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk mendokumentasikan, memperkenalkan, dan menghidupkan kembali tradisi kepada masyarakat yang lebih luas, termasuk generasi muda yang kini akrab dengan media digital.
Pondok Pesantren MUS Canduang menyampaikan apresiasi dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada sutradara muda berbakat, @ptrsymphony, beserta seluruh kru dan pihak yang telah bekerja keras menghadirkan karya dokumenter yang sarat nilai edukasi dan budaya. Kehadiran film "Suara yang Menjaga Adat" diharapkan mampu menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk semakin mencintai dan melestarikan tradisi Minangkabau sebagai bagian dari identitas bangsa.
Semoga karya ini menjadi langkah awal lahirnya lebih banyak dokumentasi budaya yang mampu menjembatani nilai-nilai luhur warisan leluhur dengan kehidupan generasi masa kini. Sebab, selama masih ada generasi yang mau belajar, menghargai, dan meneruskan tradisi, maka akan selalu ada "suara yang menjaga adat."
